Qinanti yang broken home Essay

Qinanta adalah anak dari Rinanta dan Ananta yang baru berusia 12 tahun.

Ayah dan ibunya Qinanta adalah orang terpandang. Ayahnya adalah direktur utama di sebuah kantor dan sudah memiliki hampir 10 cabang di berbagai kota sedangkan ibunya adalah pengusaha butik yang sudah memiliki 4 cabang di berbagai kota.

Qinanta adalah anak yang baru memasuki sekolah menengah pertama, tepatnya di SMP Perwira Sakti yang berada di Bogor. sejak kecil Qinanta sudah terbiasa ditinggal oleh kedua orang tuanya pergi kerja hingga larut malam. Namun, Qinanta tidak pernah kehilangan kasih sayang dari ayah dan ibunya. Hal itu terjadi saat ia masih kecil.

Mbak Marni adalah pengasuh Qinanta sejak ia berumur 4 tahun. Qinanta memang sudah menganggap Mbok Marni sebagai keluarganya karena Mbok Marni memang sudah lama bekerja di rumah Qinanta.

Qinanta adalah anak yang terkenal sangat periang, ramah, pintar dan baik di sekolahnya. Yaa . . . walaupun kadang suka membuat onar di kelasnya. Ia juga dikenal sebagai anak yang lucu. Namun, Qinanta seakan bukan Qinanta ketika ia berada di rumahnya. Ia serasa menjadi orang lain. Dia tidak bisa menjadi dirinya sendiri. Ketika dia berada di rumah, dunia rumahnya yang sangat suram, membuatnya menjadi orang yang berbeda. Hal yang membuat ia seperti ini karena masa lalunya. Sejak ia kecil, ia sering mendengar ayah dan ibunya bertengkar. Kala itu masih terngiang-ngiang di telinganya mendengar pertengkaran orangtuanya. Qinanta hanya bisa menyaksikan sambil menangis ketika peristiwa itu terjadi. Peristiwa itu sering terjadi bahkan sampai ia berumur 12 tahun sekarang ini. Karena itu, ketika Qinanta berada di rumah ia dikenal sebagai anak yang dingin, dan tak banyak bicara.

* * * *

Hari ini tepatnya Senin pagi pukul 06.10, Qinanta hendak pergi ke sekolah, ketika ia menaiki sebuah mobil yang di kendarai oleh supinya, Narto ia mendengar teriakan ayahnya.

“Qinantaaa . . . bareng Ayah saja.” Teriakan tersebut menghentikan langkahnya untuk menaiki mobil tersebut. Selanjutnya, Qinan meranjak mendekati ayahnya.

“Yuk Yah",” ujar Qinan dengan sebuah senyuman lebarnya yang jarang sekali ia tampakkan kepada ayahnya itu.

Tak ada percakapan antara ayah dan anak itu di sepanjang jalan, tetapi tiba-tiba Qinan memulai topik pembicaraan.

“Yah, tumben nganterin Aku ke sekolah?” tanya Qinan dengan serius.

Ayahnya hanya menjawab pertanyaan Qinan dengan senyuman. Tak lama kemudian ayahnya menanyakan tentang prestasinya di sekolah.

“Gimana Qinan nilaimu baik?”

Dengan datar Qinan menjawab",

“Ya.”

Tak lama kemudia mobil hitam dengan merek Ferrari itu berhenti di depan gerbang SMP Perwira Sakti. Qinanta pun hendak turun dan memasuki gerbang sekolah. Seperti biasa di kelasnya terdapat suasana guruh dan kacau. Asyraf adalah teman sebangku Qinanta sekaligus teman dekatnya, karena menurut Qinanta Asyraf adalah orang yang paling mengerti tentangnya.

“Eh . . . Qinanta, tumben lo baru datang jam segini",” gurau Asyraf.

“Nyebelin deh Lo Sraf wkwkwk",” dengan jengkel Qinanta pun segera melontarkan ucapannya.

Wajah lucu, canda gurau Asyraf selalu membuat Qinanta terkekeh saat bersama Asyraf.

Kring . . . kring . . .

“Eh ayo kita istirahat",” ujar Asyraf. “Ha, iya Qinanta pun menjawab singkat.

Qinanta tidak keluar kelas saat jam istirahat. Ia hanya mengobrol dengan sobat nya di kelas Riska dan Rina. Riska, Rina, dan Qinanti emang jarang keluar kelas. Mereka lebih suka di dalam kelas. Sepulang sekolah Qinanta langsung dijemput oleh supirnya yang sudah menunggunya di depan gerbang SMP Perwira Sakti itu .

Sesampainya pulang di rumah Qinan mendapati seorang perempuan yang sedang berada di ruang tamunya sambil duduk dan menunggu yang tidak lain adalah ibunya. Qinan pun mendekati ibunya.

“Ma, kenapa ma?”

“Qinan . . ., papa . . . Qinan, ” jawab ibu nya yang ragu.

“Mama bertengkar lagi ma?” tanya Qinanta dengan matanya yang penuh amarah.

“Tadi mama bertengkar dengan papamu dan kami memutuskan untuk berpisah",” mamanya spontan menjawab.

“Selama ini mama papa gak pernah memikirkan aku. Kalian egois, kalian hanya memikirkan ego kalian masing-masing, apa mama gak kepikiran aku untuk memutuskan semua ini. Mama papa jahat!” jawab Qinanta dengan kuat.

Setelah kejadian itu keluarga Qinan semakin berantakan. Beruntungnya Qinan tidak kehilangan satu pun fasilitas yang dia miliki. Ibunya Qinan menjadi lebih sibuk dengan bekerja. Qinan masih tidak menerima semua apa yang telah terjadi sehingga berdampak pada tingkah lakunya di sekolah. Qinan yang dulunya ceria, periang, lucu, pembuat onar, ramah, itu pun berubah menjadi anak yang dingin di sekolahnya. Bahkan Asyraf, Rina, Riska pun tidak mengetahui apa yang terjadi dengan Qinan Bahkan tidak satupun yang bisa membuat Qinan tertawa seperti biasanya. Nilai Qinan pun turun drastis, Kejadian itu sungguh sangat menguncang jiwanya. Qinan pun tambah menjadi-jadi dan menjadi anak nakal. Dia telah hancur dan tidak bisa mengatasinya sendirian.

Pada akhirnya, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Mayatnya ditemukan tergantung di atas tempat tidurnya. Ibu dan ayahnya pun menyesali dengan semua perbuatannya dengan sangat berduka atas kepergian putri kecilnya, Qinan :)

How to cite this essay: